fbpx

Biaya kredit yang dikeluarkan perbankan pada kuartal III 2020 mulai melandai


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di salah satu bank swasta di jakarta, Senin (5/10).

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dibandingkan tahun lalu, biaya kredit yang dikeluarkan bank sampai kuartal III-2020 2020 memang masih lebih tinggi. Namun, rasio tersebut tercatat mulai melandai dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya.

PT Bank Danamon Tbk (BDMN) misalnya pada kuartal III-2020 rasio  biaya kredit sebesar 4,0%, lebih rendah dibandingkan kuartal II-2020 sebesar 4,5%, meskipun terjadi lonjakan cukup tinggi dibandingkan kuartal III-2019 sebesar 2,7%.

“Kami tak serta merta ingin rasio tersebut turun, karena kami juga harus memastikan pencadangan dibentuk memadai. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini,” ujar Direktur Kredit Bank Danamon Dadi Budiana kepada KONTAN pekan lalu.

Hal tersebut utamanya ditopang oleh mulai rasio kredit macet perseroan yang sampai September 2020 berada pada level 3,2%, membaik dibandingkan kuartal I-2020 sebesar 3,4%, dan kuartal II-2020 4,2%.

Baca Juga: OJK dan bankir sepakat kredit di 2021 akan lebih menggeliat

Hal serupa juga terjadi di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) per September 2020 rasio biaya kredit perseroan sebesar 1,8%, setara dengan September tahun lalu. Adapun pada kuartal II-2020 tercatat biaya kredit perseroan berada pada titik tertinggi tahun ini sebesar 2,5%.

“Ini dilakukan untuk mengatisipasi pemburukan kualitas kredit di tengah tantangan pandemi. Sementara pembentukan pencadangan sampai September sebesar Rp 9,13 triliun meningkat 160,6% (yoy),” ujar EV Secretariat and Corporate Communication BCA Hera F Haryn pada KONTAN.

Melandainya biaya kredit perseroan juga ditopang dari mulai berkurangnya pencadangan yang dibentuk, sepanjang kuartal III-2020 BCA membentuk pencadangan Rp 2,60 triliun. Lebih rendah dibandingkan kuartal II-2020 senilai Rp 4,35 triliun.

Pun rasio kredit bermasalah bank swasta terbesar di tanah air ini juga membaik dari 2,1% pada kuartal II-2020 menjadi 1,9% pada kuartal III-2020.

Baca Juga: Berniat tempatkan dana di deposito? Cermati dulu bedanya dengan tabungan

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Korporasi irit berutang, kredit tak berkembang


ILUSTRASI. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso (kanan) FOTO ANTARA/Puspa Perwitasari/hp.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Minimnya penyaluran kredit anyar kepada korporasi sekaligus makin rajinnya mereka bayar utang bikin penyaluran kredit selama pandemi belum pulih. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, terjadi penurunan baki debit di segmen kredit modal kerja (KMK) yang cukup signifikan dari sejumlah korporasi yang bikin secara total outstanding kredit perbankan juga masih loyo. 

“Dari 100 debitur besar yang kami lacak tercatat mengalami penurunan baki debit rata-rata mencapai 11,5%,” ungkapnya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Kamis (12/11).

Sampai September 2020, tercatat KMK masih tumbuh negatif 2,78% (ytd) dibandingkan akhir tahun lalu, dan menjadi segmen yang paling lambat tumbuh. Sementara pertumbuhan kredit dari debitur korporasi jadi yang paling dalam merosot dengan pertumbuhan negatif 2,23% (ytd).

Baca Juga: BI pompa injeksi likuiditas perbankan hingga Rp 672,4 triliun

“Lantas bagaimana mendorong permintaan kredit korporasi, ini butuh upaya luar biasa. Karena korporasi sangat tergantung pertumbuhan permintaan. Kalau permintaan yang berkaitan dengan barang sekunder, motor, mobil, penginapan belum jadi prioritas,” lanjut Wimboh. 

Sementara secara total pertumbuhan kredit perbankan juga masih negatif 1,54% (ytd). Tercatat cuma bank daerah dan bank asing yang telah meraih pertumbuhan kredit positif masing-masing 2,73% (ytd), dan 0,27%. Sementara bank pelat merah negatif 0,36% 9ytd), dan bank swasta negatif 3,69%.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Bunga kredit di Indonesia paling tinggi dibanding negara tetangga, ini penyebabnya


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Walau bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah berangsur turun, ditambah tren biaya dana (cost of fund/CoF) yang melandai, tingkat bunga kredit perbankan di Indonesia masih terbilang tinggi. 

Merujuk pada data yang dihimpun Ceicdata misalnya, per September 2020 akhir, rata-rata bank prime lending rate di Indonesia sebesar 9,37%. 

Angka itu sebenarnya turun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yaitu 9,38%. Menandakan kalau laju bunga kredit saat ini memang terus melandai. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia bisa jadi punya tingkat bunga kredit yang paling tinggi. 

Ambil contoh, prime lending rate Malaysia per Agustus 2020 lalu sebesar 3,64%. Lalu ada Singapura yang per Oktober 2020 sebesar 3,64% kemudian Thailand 5,41% akhir September 2020 lalu. 

Menurut beberapa ekonom yang dihubungi Kontan.co.id, ada banyak faktor yang membuat tingkat bunga kredit di Tanah Air terbilang tinggi. 

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, salah satu pengaruhnya adalah masih tingginya beban operasional dan pendapatan operasional (BOPO) di Indonesia yang secara relatif masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. 

Baca Juga: Biaya operasional (BOPO) kembali menanjak, begini strategi perbankan

“Tingginya BOPO di Indonesia diartikan sebagai masih belum efisiennya perbankan di Indonesia, sehingga bank masih harus menetapkan suku bunga tinggi untuk mengompensasi tingginya biaya operasional,” kata Josua, Senin (9/11). 

Di sisi lain, kata Josua, masih tingginya suku bunga BI tidak dapat terhindarkan seiring dengan masih dibutuhkannya dana aliran asing ke Indonesia untuk membantu stabilitas nilai tukar rupiah. 

Sebagai informasi saja, saat ini suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (7DRR) ada pada posisi stabil 4% sejak pertengahan Juli 2020. 

Tapi kabar baiknya, tren BOPO perbankan saat ini terus melandai, dan membantu mendukung penurunan suku bunga kredit. Ini artinya, tren penurunan suku bunga kredit menurut Josua bakalan terus berlanjut. 

“Dibutuhkan peningkatan efisiensi perbankan sebagai salah satu motor pendorong penurunan suku bunga lebih rendah lagi,” terangnya.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Ada dana PEN, namun kredit UMKM belum tumbuh optimal hingga September 2020


ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di Bank Mandiri. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kredit di segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perbankan hingga September 2020 masih belum bergerak cukup positif. Padahal, segmen ini merupakan fokus utama pemerintah dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN). Penempatan dana program PEN di bank sebagian besar diperuntukkan guna memacu kredit segmen ini. 

Data Otoritas  Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM per September masih tercatat turun sebesar 1,57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Tetapi secara bulanan sudah masih naik tipis yakni 0,7%. 

Perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan yang berkontribusi paling besar dari total kredit UMKM terkontraksi paling dalam pada September dibanding posisi Maret, masing-masing turun 13,9% dan 5%. 

PT Bank Mandiri misalnya hanya mencatat pertumbuhan tipis  kredit segmen kecil dan menengah (UKM) pada kuartal III 2020 yakni hanya naik 0,8% secara YoY menjadi Rp 52,3 triliun dan 0,9% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan segmen mikro masih turun 9% secara YoY menjadi Rp 117,4 triliun tetapi sudah tumbuh 4,8% secara kuartalan.

Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto mengaku, kredit segmen kecil dan menengah (small and medium enterprise/ SME) belum optimal di tengah pandemi Covid-19 karena keterbatasan ruang gerak perseroan untuk melakukan akuisisi baru, menurunnya permintaan kredit dan adanya alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) perseroan yang difokuskan melakukan restrukturisasi kredit.

Namun, Bank Mandiri sudah mulai mendorong ekpansi sejak Juli dan penyaluran kredit sudah perlahan meningkat bulan per bulan. “Sudah terjadi pertumbuhan secara bulanan di Juli, Agustus, September dan Oktober,” kata Aquarius pada Kontan.co.id, Jumat (6/11). 

Baca Juga: Ini saran ekonom Indef bagi pemerintah untuk ungkit perekonomian Indonesia

Aquarius merinci, kredit SME telah naik Rp 2,4 triliun dari posisi Juni 2020 dengan gross ekpansi (Juli – September 20) sebesar Rp 11.8 Tn. Dari gross ekspansi pada kuartal III itu, terdapat limit tambahan sebesar Rp 19,2 triliun dimana 61% didukung dari program PEN dengan limit Rp 12,3 triliun. 

Dari segmen SME yang tumbuh paling tinggi di Bank Mandiri berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, lalu sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan, serta sektor kontruksi. Sedangkan yang turun tajam adalah sektor real estate dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan huburan, serta sertor pertambangan dan penggalian. 

Untuk mendorong kredit segmen SME, Aquarius bilang Bank Mandiri akan memaksimalkan penyaluran program PEN. Selanjutnya, perseroan fokus ekpansi ke nasabah value chain dan prima. Ekspansi akan dilakukan menggunakan unit UKM Center.

Sementara UMKM di BRI masih tumbuh jauh di atas industri.  Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pertumbuhan itu ditopang oleh segmen mikto yang per September berhasil naik di atas 7,5% secara YoY. 

Untuk mendorong pertumbuhan kredit khususnya di segmen mikro,   BRI akan melakukan ekspasi secara selektif pada sektor-sektor ekonomi yang masih berprospek bagus. “Sektor seperti sektor pangan, perdagangan terkait makanan dan minuman, serta sektor terkait industri kesehatan menjadi sektor prioritas kami dalam.ekspansi kredit,” kata Supari.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Kredit Melambat, Kata Mirza Adityaswara Ini Penyebabnya



Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonom Senior, Mirza Adityaswara memandang bahwa masih lemahnya pertumbuhan kredit saat ini disebabkan beberapa faktor, mulai dari dari kondisi korporasi yang belum beroperasi optimal akibat pandemi, masih perlunya tenggang waktu bagi perusahaan untuk kembali mengambil kredit mengingat belum pulihnya permintaan serta besarnya risiko kredit yang sudah mencapai 20% jauh diatas kondisi normal di kisaran 10%.

Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dengan Ekonom Senior, Mirza Adityaswara dalam Closing Bell,CNBCIndonesia (Kamis, 05/11/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini




Source link

Kredit perbankan mulai tumbuh tapi masih melambat


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, berdasarkan data sektor keuangan hingga September 2020, kinerja intermediasi masih tumbuh positif dan tingkat prudensial juga tetap terjaga pada level yang terkendali.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, hingga September 2020 total dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebesar 12,88% secara year on year (yoy). Sementara itu, setelah mengalami kontraksi yang cukup dalam pada bulan April sampai Juni 2020, kredit perbankan masih mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 0,12% yoy.

“Meskipun kredit tumbuh melambat di bulan September 2020, namun mulai menunjukkan pertumbuhan positif secara month-in-month (mom) yaitu 0,16% yang ditopang oleh kredit bank milik pemerintah,” kata Wimboh dalam video conferece di Jakarta, Senin (2/11).

Kredit modal kerja dan kredit konsumtif mulai menunjukkan pertumbuhan positif secara bulanan sejak pandemi corona, terutama berasal dari kredit rumah tangga (peralatan rumah tangga dan multiguna) yang tumbuh 2,05% secara bulanan.

Baca Juga: OJK: Restrukturisasi kredit sudah tembus Rp 914,65 triliun per 5 Oktober 2020

Berbagai kebijakan stimulus yang diberikan OJK dan pemerintah telah memberikan dampak positif pada segmen UMKM, tercermin dari kenaikan pertumbuhan yang positif secara mtm di dua bulan terakhir yakni di bulan Agustus 2020 tumbuh positif 0,18% mom dan September tumbuh 0,78% mom.

Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan tercatat terkontraksi 14,4% yoy seiring belum pulihnya pasar kendaraan bermotor yang merupakan sektor ekonomi yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembiayaan.

Sedangkan, industri asuransi dapat menghimpun pertambahan premi sebesar Rp 17,8 triliun (asuransi jiwa: Rp 11,6 triliun; asuransi umum dan reasuransi: Rp 6,2 triliun).

Sampai dengan 26 Oktober 2020, di pasar modal jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 141, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp 93,4 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 45 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 49 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 20,75 triliun.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada September 2020 juga masih terjaga dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,15% (NPL net: 1,07%) dan Rasio NPF sebesar 4,9%.

Di tengah penguatan nilai tukar rupiah, risiko nilai tukar di perbankan dapat dijaga pada level yang rendah terlihat dari rasio posisi devisa neto (PDN) sebesar 1,60%, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%.

Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per 21 Oktober 2020 terpantau pada level 154,14% dan 32,94%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai. Capital adequacy ratio (CAR) perbankan tercatat sebesar 23,39% serta risk-based capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 506% dan 330%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%.

OJK akan terus mengoptimalkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui penguatan peran sektor jasa keuangan. OJK berkomitmen kuat untuk mendukung program percepatan pemulihan ekonomi nasional. OJK juga siap mengeluarkan kebijakan stimulus lanjutan secara terukur dan tepat waktu untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.





Source link

Cegah penurunan kualitas debitur, OJK perpanjang relaksasi restrukturisasi kredit

Cegah penurunan kualitas debitur, OJK perpanjang relaksasi restrukturisasi kredit


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan memutuskan memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit yang tertuang dalam POJK No.11/POJK.03/2020 selama setahun. Relaksasi yang sebelumnya bakal berakhir Maret 2021 tersebut masih akan berlaku hingga Maret 2022.

Perpanjangan itu dilakukan setelah memperhatikan asesmen terakhir yang dilakukan OJK terkait debitur restrukturisasi sejak diputuskannya rencana memperpanjang relaksasi ini pada saat Rapat Dewan Komisioner OJK pada tanggal 23 September 2020.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, perpanjangan relaksasi restrukturisasi ini sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi. 

“Namun kebijakan perpanjangan restrukturisasi diberikan secara selektif berdasarkan asesmen bank untuk menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu melakukan kegiatan ekonomi dengan beradaptasi ditengah masa pandemi ini,” kata Wimboh dalam keterangan resminya, Jumat (23/10).

Baca Juga: BI dan OJK sepakati penguatan proses pemberian likuiditas ke perbankann

OJK segera memfinalisasi kebijakan perpanjangan restrukturisasi ini dalam bentuk POJK termasuk memperpanjang beberapa stimulus lanjutan yang terkait antara lain pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah (loan at risk) dalam penilaian tingkat kesehatan bank, governance persetujuan kredit restrukturisasi, penyesuaian pemenuhan capital conservation buffer dan penilaian kualitas Agunan yang Diambil Alih (AYDA) serta penundaan implementasi Basel III.

Realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan per tanggal 28 September 2020 sebesar Rp904,3 Triliun untuk 7,5 juta debitur. Sementara NPL di bulan September 2020 sebesar 3,15% menurun dari bulan sebelumnya sebesar 3,22%. 

Untuk menjaga prinsip kehati-hatian, bank juga telah membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang dalam 6 bulan terakhir menunjukkan kenaikan.

OJK terus mencermati dinamika dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kestabilan di sektor jasa keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Adapun relaksasi dalam POJK 11 tersebut terdiri dari, pertama, penilaian kualitas kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga untuk kredit sampai Rp10 miliar.

Kedua, restrukturisasi dengan peningkatan kualitas kredit/pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi. 

Ketentuan restrukturisasi ini dapat diterapkan bank tanpa batasan plafon kredit.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

Bank kebut ekspansi dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

Bank kebut ekspansi dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)


ILUSTRASI. Costumer Service melayani nasabah di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Maybank Kalibesar Jakarta usai peresmian kembali, Kamis (6/9). KCP Maybank Kalibesar merupakan cabang yang beroperasi saat bank didirikan pada tahun 1959. Dengan beroperasinya kembali KCP m

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. Menjaga rentabilitas selama pandemi, bank penerima dana pemulihan ekonomi (PEN) terus berupaya mendorong  ekspansinya. Bank pelat merah bahkan hampir memenuhi target penyaluran kredit yang ditetapkan pemerintah.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) misalnya hingga 24 Agustus 2020 telah menyalurkan kredit Rp 12,03 triliun. Nilai tersebut setara 2,4 kali dari nilai penempatan dana Rp 5 triliun, adapun targetnya, hingga akhir September perseroan bakal menyalurkan kredit dari dana PEN senilai Rp 15 triliun, atau tiga kali lipat dari nilai penempatan dana.

Direktur Manajamen Risiko BNI Osbal Saragi bilang dana PEN memang akan jadi sumber utama ekspansi kredit perseroan hingga akhir tahun. Maklum, tak cuma dan akan diberikan, perseroan juga memanfaatkan sejumlah stimulus lain seperti penjaminan kredit dari PT Askrindo dan Jamkrindo guna menekan risiko kredit.

Baca Juga: Ekonom ini memprediksi akan terjadi deflasi 0,01% mom pada bulan Agustus 2020

“Ekspansi kami akan lebih hati-hati di semester kedua, strateginya akan mengarah terkait program PEN, atau seiring kebijakan pemerintah yang akan mengakselerasi penyerapan anggaran, sehingga segmen korporasi, menengah, dan kecil pasti akan sangat relevan,” kata Osbal kepada KONTAN pekan lalu.

Adapun dari komposisi penyaluran kredit dari dana PEN mayoritas disalurkan ke sektor usaha kecil, yakni senilai Rp 6,95 triliun atau 57,8% nilai penyaluran.

Bank pelat merah lainnya yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bahkan sudah memenuhi target penyaluran kredit tiga kali lipat dari nilai penempatan dana. Perseroan telah berhasil menyalurkan kredit Rp 26,9 triliun dari dana PEN senilai Rp 10 triliun yang ditempatkan. Atau setara 88,3% dari target penyaluran Rp 30,4 triliun.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Silvano Rumantir bilang penyaluran kredit bahkan difokuskan kepada sejumlah debitur anyar, alih-alih debitur lama perseroan, terutama untuk segmen KUR.

Baca Juga: Hingga Juli 2020, Pegadaian sudah bebaskan bunga pinjaman kepada 1,9 juta nasabah

“Realisasi penyaluran kredit PEN sampai 13 Agustus 2020 telah mencapai Rp 26,9 triliun kepada 50.596 debitur. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33.828 debitur atau 66,9% diantaranya merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bahkan dapat kami sampaikan bahwa seluruh debitur penerima pembiayaan PEN untuk segmen KUR merupakan debitur baru,” katanya dalam paparan virtual pekan lalu.

Jika dirinci, Rp 9,4 triliun kredit tersalurkan ke segmen UMKM, sementara sisa Rp 17,4 triliun mengucur ke segmen padat karya.

Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bahkan telah menunaikan target untuk menyalurkan kredit lebih dari tiga kali lipat dari dana Rp 10 triliun . Bank terbesar di tanah air ini telah menyalurkan kredit hingga Rp 35,8 triliun.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Source link

LPS Waspadai Kenaikan Kredit Bermasalah Selama Corona

LPS Waspadai Kenaikan Kredit Bermasalah Selama Corona


Jakarta, CNN Indonesia —

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meminta perbankan untuk mewaspadai kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) selama pandemi virus corona. Tercatat, per Juni 2020 mencapai 3,11 persen atau meningkat dibandingkan Mei 2020, 3,01 persen.

“NPL kecenderungannya naik itu yang perlu diwaspadai, juga restrukturisasi kredit yang posisinya naik mencapai 21 persen,” kata Anggota Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono dalam webinar terkait ancaman resesi ekonomi, seperti dikutip Antara, Rabu (26/5).

Rasio NPL Juli lalu juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 2,50 persen.


Sementara, persentase pertumbuhan penyaluran kredit per Juni 2020 turun menjadi 1,49 persen. Angka itu melambat dibandingkan Mei 2020 mencapai 3,04 persen dan Juni 2019 sebesar 9,92 persen.

Kendati begitu, ia menilai perbankan Indonesia masih memiliki daya tahan. Salah satu indikatornya rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,54 persen pada Juni 2020 atau lebih tinggi dibandingkan posisi Mei 2020 mencapai 22,26 persen.

Guna membantu perbankan dalam menjaga likuiditas, LPS memberikan relaksasi berupa penghapusan denda keterlambatan pembayaran premi.

Dalam hal ini, pembayaran premi dilakukan paling lambat dilakukan 31 Juli diperpanjang menjadi 30 Desember 2020.

Untuk enam bulan pertama, LPS mengenakan denda nol persen dan 0,5 persen enam bulan setelahnya yang diatur dalam UU No 2 tahun 2020.

Relaksasi denda ini jauh lebih ringan apabila dibandingkan dalam aturan yang diatur dalam UU LPS yang menetapkan denda 150 persen dari jumlah premi yang seharusnya dibayar untuk periode yang bersangkutan.

Terkait penjaminan, per Juli 2020, jumlah rekening yang dijamin LPS mencapai 99,91 persen dari total rekening atau setara dengan 319,4 juta rekening.

Secara nominal, jumlah simpanan yang dijamin mencapai 52,45 persen dari total simpanan atau sekitar Rp3.350,23 triliun.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/age)





Source link