fbpx
Koreksi IHSG Berkurang di Sesi I, Asing Borong TOWR & TLKM

Koreksi IHSG Berkurang di Sesi I, Asing Borong TOWR & TLKM


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama awal pekan Senin (7/9/20) berhasil rebound setelah sempat dibuka turun 0,42% di level 5.217,59. Selang 12 menit setelah pembukaan sempat ambruk ke level terendah 5.195.

Namun IHSG mampu mengakhiri perdagangan sesi 1 dengan penurunan tipis 0,13% di angka 5.232,94.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 438 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 3,4 triliun.


Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 133 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 80 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan beli bersih sebesar Rp 12 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy sebesar Rp 8 miliar.

Blavatnik School of Government di Universitas Oxford (Inggris) merilis angka Containent Health Index yang menggambarkan bagaimana kecakapan suatu negara dalam menangani pandemi virus corona dari aspek kesehatan.

Indeks ini melihat aspek pembatasan aktivitas masyarakat, pengujian (testing), pelacakan (tracing), investasi di bidang kesehatan, sampai pengembangan vaksin anti-corona.

Per 4 September, skor Containment Health Index Indonesia ada di 56,44. Dari 10 negara anggota ASEAN, Indonesia menempati peringkat enam.

Selanjutnya bursa di kawasan Asia juga terpantau mulai bangkit setelah pagi tadi dibuka merah. Nikkei di Jepang terdepresiasi 0,38%,Hang Seng Index di Hong Kong naik 0,05%,  sedangkan Indeks STI di Singapura apresiasi 0,12%.

Optimisme bursa Asia mulai muncul setelah China merilis data ekspor impornya pada bulan Agustus yang menunjukkan ekspor Negeri Panda berhasil melesat 9,5% Year on Year (YoY) dari posisi bulan Juli yang hanya naik 7,2%. Kabar ini membuat sumringah pasar meskipun data Impor China masih terpantau turun pada Agustus yakni 2,1% YoY dari posisi bulan Juli 1,4% YoY.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) terbanting pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2020), menyusul aksi ambil untung gila-gilaan.Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup terbanting 0,56%, Nasdaq anjlok 1,35%, dan S&P 500 merosot 0,89%.

Pada Agustus, perekonomian AS menciptakan 1,371 juta lapangan kerja. Lebih sedikit ketimbang bulan sebelumnya yaitu 1,734 juta.

Sementara tingkat pada Agustus berada di 8,4%, turun dibandingkan Juli yang sebesar 10,2%. Jerome ‘Jay’ Powell, Ketua Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) merespons positif perkembangan data ketenagakerjaan, tetapi ke depan masih perlu kerja keras.

“Kami berpandangan bahwa situasi akan lebih sulit, terutama ada beberapa area di perekonomian yang masih sangat terdampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) seperti pariwisata dan hiburan.

Ekonomi masih membutuhkan suku bunga rendah, yang mendukung perbaikan aktivitas ekonomi, sampai beberapa waktu. Mungkin dalam hitungan tahun. Selama apa pun itu, kami akan tetap ada,” papar Powell dalam wawancara dengan National Public Radio, sebagaimana dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link

Dihajar Luar Dalam, IHSG Tak Kuat Bangkit ke Zona Hijau

Dihajar Luar Dalam, IHSG Tak Kuat Bangkit ke Zona Hijau


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (3/9/20) ditutup anjlok 0,59% di level 5.280,81. Kenaikan IHSG pada akhir perdagangan berhasil menyelamatkan IHSG dari kejatuhan yang lebih dalam, tercatat IHSG sempat anjlok 1,3%.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 787 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 8,5 triliun.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan jual bersih sebesar Rp 107 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 226 miliar.


Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan beli bersih sebesar Rp 32 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net buy sebesar Rp 79 miliar.

Selanjutnya bursa di kawasan Asia terpantau bervariatif, Nikkei di Jepang terapresiasi 0,94%Hang Seng Index di Hong Kong turun 0,45%,  sedangkan Indeks STI di Singapura anjlok 0,54%.

Pasar terlihat masih mengkhawatirkan wacana penghapusan independensi Bank Indonesia (BI), yang membawa Republik ini mundur ke era Orde Baru di mana BI beroperasi di bawah Menteri Keuangan.

Sebelumnya, ramai diberitakan mengenai adanya Dewan Moneter, yang bakal diketuai Menteri Keuangan, dalam draf RUU. Yang menjadi perkara, BI akan dibawahi Dewan Moneter dan ketentuan soal “pihak lain tidak bisa ikut campur dalam pelaksanaan tugas BI” dihapus.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link

Ramai Emiten Jual Aset, Ada Apa Ini?

Ramai Emiten Jual Aset, Ada Apa Ini?


Jakarta, CNBC Indonesia Kesulitan likuiditas yang di alami oleh sebagian besar emiten pada tahun 2020 ini akibat dari pandemi virus corona membuat perseroan haru memutar otaknya. Sebagian memilih untuk kembali menghimpun dana di pasar modal baik dengan right issue ataupun private placement.

Akan tetapi sebagian emiten lain memilih pendekatan yang berbeda daripada menghimpun dana via pasar modal. Emiten-emiten ini memilih untuk melakukan divestasi atau bahkan menjual langsung aset-aset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Apakah aksi perseroan ini baik bagi emiten tersebut atau malah merugikan minority shareholder karena penjualan tersebut malah menggerus pendapatan perusahaan?


Berberapa hal yang tentunya akan mempengaruhi persepsi para pelaku pasar terhadap penjualan aset atau divestasi suatu emiten tentunya salah satunya adalah harga jual aksi korporasi tersebut.

Apakah harga penjualan berada di harga wajar, tergolong mahal sehingga menguntungkan emiten, atau bahkan ternyata aset tersebut dijual murah terhadap perusahaan lain yang merupakan perusahaan afiliasi sehingga minority shareholder terpaksa gigit jari.

Selain itu apakah aset yang dijual merupakan aset yang krusial bagi keberlangsungan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan utamanya juga tentunya menjadi pertimbangan para investor.

Terakhir, tentunya dana hasil penjualan aset atau divestasi tersebut apakah digunakan dengan baik oleh perusahaan. Idealnya dana hasil penjualan dapat digunakan untuk melakukan ekspansi bisnis dimana ini merupakan pertanda yang baik bagi para pelaku pasar.

Akan tetapi apabila dana hasil penjualan ini digunakan untuk membayar hutang, apalagi digunakan untuk transaksi afiliasi, ini bisa menjadi sinyal yang buruk apabila dana hasil penjualan aset atau divestasi tidak digunakan dengan baik

Bagaimana dengan kinerja harga saham-saham dari perusahaan yang baru-baru ini melakukan penjualan asetnya ataupun divestasi ? Simak tabel berikut.

Dapat dilihat sebagian besar emiten-emiten yang melakukan divestasi ataupun penjualan aset harganya berhasil terbang sejak aksi korporasi tersebut dilakukan, bahkan kenaikan berberapa emiten lebih tinggi daripada Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) sejak anjlok ke level terendahnya 3.937 yang ‘hanya’ mampu terbang 34,8% sehingga berberapa emiten ini dapat dikatakan outperform terhadap IHSG.

Harga saham perusahaan yang berhasil melesat paling tinggi setelah dilaksanakannya penjualan aset adalah PT Natura City Developments Tbk (CITY) yang harga sahamnya berhasil melesat 108%.

Anak usaha Sentul City ini sendiri pada Februari silam melakukan penjualan 59 bidang tanah seluas 131.863 meter persegi yang terletak di Tangerang Selatan kepada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan nilai keseluruhan sebesar Rp 98,89 miliar.

Penurunan harga saham setelah aksi korporasi hanya terjadi di saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang baru-baru ini menjual asetnya yakni Lippo Mall Puri senilai Rp 3,5 triliun dari aksi korporasi afiliasi ini.

Penjualan dilakukan melalui perusahaan REIT (Real Estate Investment Trust, atau Dana Investasi Real Estate/DIRE) bernama Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT) yang berbadan hukum Singapura.

Sebelumnya Januari lalu, LPKR sudah menjual dua mal di Indonesia dengan total penjualan sebesar Rp 1,28 triliun, kedua mal yang juga dijual lewat produk REITs atau DIRE adalah Pejaten Village dan Binjai Supermall.

Sebenarnya pasar merespons positif aksi penjualan ini sebab pada hari pengumuman harga saham LPKR sempat naik 3,8% akan tetapi sentimen di Indonesia secara umum masih kurang bersahabat pada hari itu, tercatat IHSG pada 31 Agustus 2020 anjlok 2,02%. Sejak pengumuman penjualan Lippo Mall Puri sendiri LPKR sudah turun 3,8%.

Selanjutnya rencana divestasi yang belum direspons positif oleh para pelaku pasar adalah aksi BUMN konstruksi PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang mengungkapkan setidaknya ada 8 calon investor yang siap melakukan penawaran untuk membeli 2 ruas tol milik perseroan yakni Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang dengan target divestasi mencapai sekitar Rp 6 triliun.

Divestasi ini diharapkan bisa selesai pada akhir tahun ini mengingat prosesnya membutuhkan waktu.

“Ada 8 [investor] yang nawar, untuk Pejagan-Pemalang dan Kanci-Pejagan, dua ruas tol ini punya traffic paling tinggi. Memang ini belum final, kan belum lagi due dilligence [uji tuntas],” kata Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma, dalam Media Visit bersama Direktur Keuangan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) Anton Y Nugroho, di kantor CNBC Indonesia, Senin (24/8/2020). Terpantau sejak kabar WSKT akan melego tolnya beredar harga sahamnya sudah anjlok 8,45%

Selanjutnya emiten-emiten yang melakukan divestasi dan jual aset tidak datang hanya dari emiten-emiten kecil saja, bahkan emiten berkapitalisasi pasar jumbo seperti PT Astra Internasional Tbk (ASII) baru-baru ini melakukan penjualan terhadap PT Bank Permata Tbk (BNLI).

ASII resmi melepas kepemilikanya yakni sebesar 44,56% di BNLI pada Mei lalu di harga Rp 1.346/unit. ASII dan Strandard Chartered Bank yang sebelumnya dalah pemilik mayoritas BNLI menjual sahamnya kepada Bangkok Bank. Sejak aksi korporasi ini dilaksanakan, harga saham ASII sudah terbang 34,18%.

Hasil dari penjualan BNLI sendiri akan digunakan ASII untuk menguatkan neraca keuanganya di tengah pandemi virus corona.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link

Simak! Ini 10 Kabar yang Pengaruh ke Keputusan Investasi Anda

Simak! Ini 10 Kabar yang Pengaruh ke Keputusan Investasi Anda


Jakarta, CNBC Indonesia -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pertama September, Selasa (1/9/20) ditutup terbang 1,38% di level 5.310,67.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 491 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi menyentuh Rp 8 triliun.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Agustus 2020. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan ekspektasi pasar.


Pada Selasa (1/9/2020), BPS menyebut inflasi bulan lalu adalah -0,05% secara bulanan (month-to-month/MtM) alias deflasi. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan terjadi deflasi secara bulan sebesar 0,01%.

Sementara dibandingkan periode yang sama pada 2019 (year-on-year/YoY), terjadi inflasi 1,32%. Median konsensus CNBC Indonesia berada di 1,375%. Inflasi tahun kalender tercatat 0,93%.

Selain kabar tersebut, simak juga peristiwa emiten yang terjadi sepanjang perdagangan kemarin.

1. Garuda Bakal Hapus Penerbangan Transit, Ada Apa?

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memiliki strategi untuk membuka sejumlah rute baru di tahun ini untuk menambah utilisasi pesawat dan meningkatkan pendapatan yang tergerus tahun ini.

Disamping itu perusahaan juga masih menunggu satu-satunya peak season yang tahun ini bisa dilalui perusahaan dengan beroperasional penuh di akhir tahun.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan saat ini tingkat utilisasi hanyak 50%-55%, jauh dari kondisi normal. Sedangkan tingkat okupansi paling tinggi hanya 60%-63% saja mengingat adanya pembatasan yang diberlakukan oleh Kementerian Perhubungan.

2. RUPSLB bank bjb Tunjuk Direktur Komersial & UMKM Baru

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sesuai dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007.

RUPSLB dilakukan pada Selasa (1/9/2020) sebagai bagian bertempat di Grand Ballroom The Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jawa Barat dan dihadiri oleh para pemegang saham.

RUPSLB ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Terdapat tiga poin utama yang dibahas dalam kesempatan ini, yakni perubahan anggaran dasar perseroan, pengangkatan Direktur Komersial dan UMKM, serta laporan perkembangan uji tuntas (due diligence) atas rencana penggabungan/pengambilalihan usaha Bank Banten.

3. Modal Cekak, Saham Onix Capital Kena Suspensi Bursa!

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham PT Onix Capital Tbk (OCAP) mulai sesi II perdagangan, Selasa (1/9/2020) seiring dengan surat yang disampaikan manajemen perusahaan sekuritas tersebut.

“Sehubungan dengan Pengumuman Bursa Efek Indonesia (Bursa) No: Peng-00039/BEI.ANG/09-2020 tanggal 1 September 2020 dengan informasi bahwa PT Onix Sekuritas (anak usaha PT Onix Capital Tbk) tidak diperkenankan melakukan aktivitas perdagangan di Bursa sejak sesi I perdagangan tanggal 1 September 2020, sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut,” tulis pengumuman BEI.

4. Punya Pabrik Bir, DKI Jakarta Kantongi Dividen Rp 82 Miliar

Emiten produsen bir merek Anker, Anker Stout, Carlsberg, dan San Miguel, yakni PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar Rp 312,26 miliar dari laba perseroan untuk tahun buku 2019 atau setara dengan Rp 390/saham.

Keputusan tersebut sudah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang digelar pada 26 Agustus silam di Wyndham Hotel, Menteng Dalam, Jakarta.

Berdasarkan hasil RUPST yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam RUPST disetujui penggunaan Rp 312,26 miliar dari laba perseroan sebagai dividen tunai atau setara Rp 390/saham.



Source link

Bikin Khawatir! Tahun Ini, Banyak Emiten Terancam Pailit

Bikin Khawatir! Tahun Ini, Banyak Emiten Terancam Pailit


Jakarta, CNBC Indonesia Akhir-akhir ini di tengah serangan pandemi virus corona yang masih belum ada kejelasan kapan akan berakhir, banyak emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kesulitan likuiditas.

Kesulitan dana tersebut menyebabkan beberapa di antaranya tidak mampu membayar utang sehingga emiten tersebut terpaksa mengajukan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) bahkan beberapa emiten ada yang sedang menghadapi gugatan pailit dan adapula yang sudah dinyatakan pailit.

Memang skema PKPU ini sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Pasal 222 ayat (2) disebutkan bahwa:


“Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada kreditor.”

Deretan Emiten dalam Proses PKPU, Gugatan Pailit & Pailit

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat rata-rata emiten yang terkena masalah likuiditas memiliki rasio utang yang kurang baik.

Secara rule of thumb sendiri rasio utang dibandingkan dengan ekuitasnya (DER, debt to equity ratio) biasanya dikatakan sehat apabila berada di bawah angka 100%, akan tetapi ini tentunya berbeda-beda dari satu sektor ke sektor lainnya.

Tercatat DER perusahaan-perusahaan yang bermasalah ini berada di atas angka 100%, bahkan PT Grand Kartech Tbk (KRAH) memiliki rasio DER sebesar 1.633% yang artinya utang KRAH 16 kali lipat lebih besar daripada ekuitasnya.

Selanjutnya Quick Ratio (QR) perusahaan yang biasanya digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendeknya dengan melakukan perbandingan aset lancar dikurangi dengan inventorinya (karena biasanya inventori sulit untuk dilikuidisasi) dengan utang jangka pendeknya juga kurang sehat.

Tercatat emiten-emiten pesakitan ini memiliki QR di bawah 100% yang artinya terdapat potensi kegagalan bagi emiten tersebut untuk melunasi utang jangka pendeknya.

Untuk emiten-emiten yang memiliki QR di atas 100% di tabel di atas, ternyata laporan keuangannya tidak up to date sehingga tidak mencerminkan kondisi keuangan sekarang ini.

Emiten yang memiliki QR di atas 100% dan sudah merilis laporan keuangan Q2-2020 hanyalah PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dari Grup MNC. Rasio QR BMTR berada di kisaran 104,41% sehingga BMTR tergolong mampu untuk melunasi utang jangka pendeknya.

Emiten yang baru-baru ini sahamnya diborong oleh investor kawakan Lo Kheng Hong ini digugat pailit oleh KT Corporation perusahaan asal Korea Selatan yang menyatakan bahwa BMTR tidak mampu dalam melunasi utangnya.

Pihak BMTR sudah menyatakan bahwa gugatan tersebut salah alamat.

Direktur Legal Global Mediacom Christophorus Taufik mengatakan permohonan tersebut tidak berdasar atau tidak valid karena perjanjian yang dijadikan dasar dari permohonan telah dibatalkan berdasarkan putusan PN Jakarta Selatan No. 97/Pdt.G/2017/PN.Jak.Sel tanggal 4 Mei 2017 yang telah berkekuatan hukum tetap.

“Bahwa yang mengajukan Permohonan adalah KT Corporation yang patut dipertanyakan validitasnya, mengingat pada tahun 2003 yang berhubungan dengan Perseroan adalah KT Freetel Co. ltd, dan kemudian pada tahun 2006 hubungan tersebut beralih kepada PT KTF Indonesia,” kata Christophorus kepada CNBC Indonesia.

Meski demikian, di luar kasus pailit yang juga bermasalah, mayoritas emiten yang berada dalam proses PKPU, pailit dan dinyatakan pailit di atas juga datang dari sektor properti yang kita tahu terdampak cukup parah oleh virus corona.

Di tengah pandemi ini tentunya sektor properti akan kesulitan dalam menjual unit propertinya karena memang daya beli masyarakat yang sedang turun.

Beberapa emiten juga memang sudah kesulitan dalam melunasi pembayaran utang sebelum tahun 2020 karena sektor bisnis yang sudah ketinggalan zaman sehingga ketika di tahun ini Indonesia kedatangan virus corona, para emiten yang kasnya sudah seret menjadi semakin merana.

Kondisi itu seperti dialami PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) yang sahamnya sempat disuspensi bursa karena pembayaran obligasi yang bermasalah Februari silam. Pada Juni lalu saham TELE kembali dihentikan sementara oleh bursa setelah muncul keraguan terhadap keberlangsungan usaha perseroan.

TELE sendiri merupakan perusahaan yang utamanya bergerak di sektor penjualan voucher pulsa yang dianggap sudah ketinggalan jaman sebab sekarang konsumen sudah bisa mengisi pulsa dengan lebih praktis via internet banking ataupun aplikasi pembayaran daring seperti OVO dan Gopay.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)




Source link