fbpx
Gaduh Soal BI di Bawah Menkeu, Bikin Bursa RI Terguncang

Gaduh Soal BI di Bawah Menkeu, Bikin Bursa RI Terguncang


Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia minggu ini berguguran, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada periode 28 Agustus – 4 September, IHSG menjadi runner up indeks dengan kinerja terburuk di kawasan Benua Kuning.

IHSG terpangkas 2% dalam sepekan. Masih lebih baik dari kinerja bursa saham Negeri Singa, Straits Times yang anjlok nyaris 3%. Namun jika dibandingkan dengan yang lain kinerja IHSG masih jauh dari kata menggembirakan.



Pada perdagangan di hari terakhir minggu ini, Jumat (4/9/2020), IHSG ditutup di 5.239,85. Asing masih terus keluar dari bursa saham RI dengan catatan net sell sebesar Rp 5,14 triliun.

Sentimen negatif datang dari dalam dan luar negeri sehingga menekan kinerja bursa saham Tanah Air. Sentimen pertama adalah kegaduhan seputar amandemen UU tentang Bank Indonesia.

Kabarnya di atas BI akan ada Dewan Moneter yang dikepalai oleh Menteri Keuangan. Sehingga nantinya dalam penentuan kebijakan moneter, menkeu juga akan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Di sisi lain mekanisme burden sharing antara BI dan pemerintah juga kabarnya akan berlanjut hingga tahun 2022. Selain mekanisme burden sharing dan juga adanya Dewan Moneter, yang santer terdengar dari amandemen UU BI adalah tugas BI yang ditambah, termasuk untuk mendukung penciptaan lapangan kerja.

Kegaduhan ini membuat investor berhati-hati apalagi pandemi Covid-19 belum selesai dan prospek ekonomi masih suram. 

Sementara itu sentimen negatif juga datang dari luar. Kiblat bursa saham global yakni Wall Street pekan ini juga kebakaran. Indeks Nasdaq Composite yang berisikan saham-saham raksasa teknologi ambrol 5% pada Kamis dan ditutup kembali anjlok lebih dari 1% Jumat kemarin.

Amblesnya Wall Street disinyalir bisa membuat bursa saham global beralih trennya. Hal ini pun diungkapkan oleh beberapa ekonom kenamaan global. 

“Itu adalah tarik tambang yang akan terjadi dan itu akan menunjukkan DNA (watak asli) investor,” kata Kepala Ekonom Allianz Mohamed El-Erian dalam sebuah wawancara di CNBC International Closing Bell setelah indeks utama mencatat sesi terburuk sejak Juni.

“Kita bisa mengalami penurunan 10% lagi, dengan mudah … jika orang mulai memikirkan hal-hal mendasar,” kata El-Erian seraya menyarankan pelaku pasar harus melihat ke bawah.

“Jika pola pikir berubah dari teknis ke fundamental maka pasar ini harus melangkah lebih jauh … tetapi masih harus dilihat apakah akan berubah.”

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *