fbpx
Bukan Efek Omnibus Law, Ini Penjelasan BI Kenapa Rupiah Joss!

Bukan Efek Omnibus Law, Ini Penjelasan BI Kenapa Rupiah Joss!



Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) menegaskan penguatan nilai tukar rupiah saat ini bukan karena sentimen disahkannya RUU Cipta Kerja (Ciptaker) menjadi UU pada Senin lalu, tapi lebih karena faktor global.

Pada Rabu ini (7/10), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau. Kurs US$ 1 dibanderol Rp 14.690/US$ di pasar spot. Rupiah pun menguat 0,14% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

“Jujur nggak. Sekarang lebih karena global,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2020)


Menurutnya, faktor global yang dimaksud adalah dipengaruhi adanya aksi jual investor di pasar saham New York guna menghindari risiko alias risk off.

Aksi risk off biasanya terjadi ketika para investor dan trader lebih dominan mengambil langkah untuk menghindari risiko dengan cara menarik dana dari bursa saham, lalu menjual saham. Di pasar forex, juga akan dilakukan dengan menjual high yield currency.

Langkah para investor global ni dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang menghentikan negosiasi stimulus dengan pihak Partai Demokrat dan mengatakan akan mengesahkan paket stimulus itu setelah memenangkan Pemilu Presiden AS.

Sontak kabar ni membuat bursa saham AS, Wall Street, ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (6/9/2020) atau Rabu pagi waktu Indonesia.

Data perdagangan mencatat, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 375,9 poin (-1,3%) dan longsor setelah Trump mencuitkan pesan penghentian negosiasi tersebut.

Indeks S&P 500 juga melemah 1,4% ke 3.360,95 berbarengan dengan Nasdaq yang turun 1,61% ke 11.154,6. Padahal, kedua indeks acuan ini sempat menguat sebelum aksi cuitan Trump di Twitter soal negosiasi stimulus itu.

Sebelum itu, Chairman The Fed, bank sentral AS, Jerome Powell juga mengingatkan bahwa perekonomian AS akan sulit pulih tanpa stimulus Pemerintah.

Nanang melihat dengan tidak adanya harapan terkait stimulus di AS membuat investor kembali terfokus pada perkembangan kasus infeksi coronavirus yang secara global telah melampaui 35,6 juta orang dengan lonjakan kasus baru di AS dan Eropa.

“Meski rupiah pada pembukaan tertekan karena kurs NDF [non-deliverable forwar] nya naik karena global risk off tersebut, namun tertahan pelemahannya oleh intervensi BI di pasar sehingga gagal menembus Rp 14.800 yang pada akhirnya mendorong penjualan oleh sejumlah korporasi dan offshore melalui beberapa bank,” jelasnya.

Dolar AS vs Mata Uang Utama Asia












Mata Uang

Kurs Terakhir

Perubahan

USD/CNY

USD/IDR

14.690

-0,14%

USD/INR

73,313

-0,17%

USD/JPY

105,87

0,24%

USD/KRW

1.157,15

-0,62%

USD/MYR

4,150

-0,02%

USD/PHP

48,410

-0,21%

USD/SGD

1,3589

-0,28%

USD/THB

31,24

0,03%

USD/TWD

28,654

-0,57%

Table: Putu Agus Pransuamitra Source: Refinitiv

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *