fbpx
Lemes Bro, Ini Bukan Pekan Terbaik IHSG

Lemes Bro, Ini Bukan Pekan Terbaik IHSG


Jakarta, CNBC Indonesia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini ditutup terkoreksi 2,24% di level 4.945,79. Kenaikan IHSG pada akhir pekan tidak mampu menyelamatkan IHSG dari koreksi selama 4 hari beruntun pada pekan ini.

Penurunan pekan ini sendiri disponsori oleh sentimen negatif kepastian Indonesia jatuh ke jurang resesi dan rilis data global yang kurang cantik yang memberikan sinyal pemulihan ekonomi akan lebih lambat dari perkiraan.


Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 2,17triliun di pasar reguler pekan ini.

Saham yang paling banyak dilego asing pekan ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 73 triliun dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 243 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan beli bersih sebesar Rp 24 miliar dan PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang mencatatkan net buy sebesar Rp 38 miliar.

Dari dalam negeri sentimen negatif datang dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati yang meramal, untuk kuartal III ini, perekonomian Indonesia akan berada di kisaran minus 2,9% hingga minus 1%. Artinya perekonomian Nasional terkontraksi dua kuartal berturut-turut setelah pada kuartal II terkontraksi 5,32% sehingga Indonesia secara sah dan meyakinkan jatuh ke jurang resesi.

Adapun sepanjang tahun atau full year perekonomian juga diprediksi akan tetap minus 1,7% hingga minus 0,6%. Hal ini lantaran kontraksi akibat pandemi Covid-19 masih akan berlanjut di semester II tahun ini.

“Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV yang kita upayakan bisa dekat 0 atau positif,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Selasa (22/9/2020).

Dari outlook Kementerian Keuangan, hampir semua sektor penopang pertumbuhan ekonomi di tahun ini mengalami kontraksi. Hanya konsumsi pemerintah yang tumbuh positif karena berbagai bantuan yang diberikan pada masa pandemi Covid-19 ini.

Mulai dari Konsumsi Rumah Tangga -3% hingga -1,5%, konsumsi Pemerintah 9,8% hingga 17%, Investasi -8,5% sampai -6,6%, Ekspor -13,9% sampai -8,7% dan Impor -26,8% sampai -16%.

Sedangkan di sentimen global muncul dari IHS Markit yang melaporkan purchasing managers’ index (PMI) gabungan jasa dan manufaktur bulan September untuk zona euro sebesar 50,1, turun tajam dari bulan Agustus sebesar 51,9.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya berarti kontraksi, sementara di atasnya artinya ekspansi.

Pelambatan tajam ekspansi di bulan September terjadi karena sektor jasa. PMI jasa zona euro dilaporkan sebesar 47,6, turun dari bulan Agustus 50,5. Sektor jasa kembali mengalami kontraksi setelah 2 bulan beruntun berekspansi. Sementara itu PMI sektor manufaktur dilaporkan sebesar 54,3, turun dari bulan sebelumnya 55,2.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *